Satu Kantor Dengan Kesempatan di Co-Working Space

Deru debu dan desing kendaraan bermotor jadi santapan sehari-hari para pekerja kantor. Sesudah berjuang dengan kemacetan jalan, para pekerja juga segera dihadapkan dengan tumpukan tugas kantor dan ocehan bos yang tidak ada habisnya. Suasana itulah yang kemudian membikin Riza (25) menetapkan meninggalkan pekerjaannya di salah satu perusahaan iklan dan lebih memilih berprofesi sebagai freelancer.

Riza jengah dengan suasana yang terus-menerus sama dan menurutnya membosankan. Langsung, cuma bermodal kamar kos, komputer jinjing, dan dunia maya pesat, Riza yang punya keahlian desain grafis mengawali bisnis boneka rajut hasil kolaborasi dengan sebagian sahabatnya. “Jadi, aku tak perlu ngantor kini. Cukup di kamar kos. Hanya bila ada proyek aku mesti berjumpa dengan sahabat-sahabat di satu daerah, seumpama di kedai kopi,” ujar Riza dikala dihubungi.

Hal serupa juga dikerjakan Fikry Fatullah (30). Bersama 13 sahabatnya yang berada di 8 kota berbeda di Indonesia, dirinya membangun bisnis tanpa sebuah gedung kantor. Di zaman serba komputerisasi ini, ia menganggap perusahaan berkonsep “full remote” dengan kantor virtual sungguh-sungguh mungkin dikerjakan. Komunikasi cukup via aplikasi chat. Dari situ, Fikri membangun bisnis startup.

Supaya tak bosan berprofesi dari kamar kos dan kedai kopi, para karyawannya juga sering memanfaatkan ruang-ruang yang dapat disewa per jam yang ada di kota masing-masing. Tujuannya untuk menjadikan suasana kerja baru. Bagi mereka, pindah-pindah daerah (ruang dan gedung daerah kerja) atau yang kini disebut co-working space bukan jadi problem. Justru tak membosankan.

Tentu ada sebagian pertimbangan dikala memutuskan dan memilih co-working space. Kriteria hal yang demikian antara lain, kemudahan menuju lokasi, membership benefit untuk para member, variasi orang yang datang ke daerah hal yang demikian, sampai suasana kantor yang nyaman juga menjadi bahan pertimbangan. Berdasarkan Fikry, co-working space menjadi penting dikala profesi atau proyek yang dijadikan bersifat kreatif, butuh kolaborasi dengan orang-orang lain yang memerlukan keahlian kreatif juga. Karenanya, tidak heran, dalam sebuah co-working space, berkumpullah orang-orang dengan keahlian tipe-tipe utamanya yang berhubungan dengan industri kreatif.

Amat masuk nalar pula, seorang desainer seperti Monique Alexa (37), rela meninggalkan gedung kantornya yang ada di Tangerang. Dia lebih memilih berprofesi di Jakarta Creative Hub, sebuah co-working space yang dibangun Pemprov DKI di masa kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Banyak alasan kenapa Monique melaksanakan itu. Kecuali letaknya sungguh-sungguh strategis dan gampang dijangkau, adalah di wilayah Tanah Abang, Jakarta Creative Hub sebagai co-working space juga mempunyai fasilitas komplit untuk keperluan desainer fashion seperti dirinya. Mulai dari fasilitas laser cutting sampai 3D printing.

“Enggak hanya itu, yang terutama di daerah ini kita juga dapat membangun network dengan sahabat-sahabat co-office dari bidang kreatif lain tentunya,” kata Monique.